9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Sempurna

Bismillah (maaf agak panjang, tapi ada pelajaran berharga buatku disini)

Kejadian ini sudah agak lama, mungkin sekitar 3 bulan lalu. Sengaja baru aku tulis sekarang, supaya agak jauhan dari kejadian tidak mengarah ke yang bersangkutan.

Aku tulis ini dengan tujuan mengingat keputusan yang aku ambil saat itu, kelak, suatu saat nanti, mungkin bisa aku baca lagi untuk aku pelajari. Apakah sudah tepat atau masih butuh perbaikan dan perbaikan.

Ada salah satu anggota team di line yang aku pegang habis kontrak kerja ke satu di akhir November 2012. Yang bersangkutan sedang hamil sekitar 7 bulan. Estimasi melahirkan di bulan Februari 2013. Sebelum hamil, kinerja anak ini sangat memuaskan, kalau dibuat angka angka 8 dari 10. Tidak diragukan pasti akan aku perpanjang ke kontrak ke 2 (maksimal kontrak edua adalah 1 tahun). Namun, ketika hamil, kinerja, absensinya turun sangat drastis.

Sering tidak masuk karena sakit, dan memang seperti itulah orang hamil. Tiap orang reaksinya berbeda-beda, ada yang biasa aja gak ada mual muntah, ada yang gampang mual muntah, pusing dll. Kebetulan si A ini lebih ke sering mual muntah, pusing, dll. Jadi di absensinya sering gak masuk.

Belum masalah lembur, kalau biasanya setiap hari okeh ajjah buat lembur long shift (masuk jam 7, pulang jam 7) maka sejak hamil praktis sangat jarang bisa lembur. Pun di sabtu minggu juga demikian, hamper tidak pernah lembur.

Sebenarnya, ada satu hal yang aku sepakatin dengan temen-temen sebagai kelonggran bagi wanita hamil, yaitu tidak perlu kena shift. Cukup di shift pagi terus supaya menjaga kehamilannya dengan baik, dan itu sudah berjalan dari generasi ke generasi.

Cuma sayangnya, si A ini termasuk type fisik yang lemah, sehingga fisiknya butuh lebih banyak istirahat di banding dengan wanita-wanita lain. Meskipun hal itu hanya terjadi di 4 bulan awal kehamilan, selanjutnya sudah lumayan jarang tidak masuknya dan keliatan absensi dia ikut lembur.

Nah, tiba saat menentukan keputusan apakah diperpanjang atau tidak.

Aku kumpulkan leader dan beberapa karyawan senior, aku bertanya tentang kinerja si A. Jawabnnya sudah bisa di prediksi, semuanya bilang “No”. Tentu dengan alas an yang logis dan objective terkait kinerjanya. Ya meskipun beberapa minggu sebelumnya ada sedikit “crass” si A dengan salah satu karyawan senior yang aku Tanya.

Hampir seminggu aku bingung untuk mengambil keputusan, apakah harus aku stop kontraknya? Atau aku teruskan kontrak kerjanya. Setiap keputusan ada resikonya.

Jika aku Stop, aku merasa bersalah. Pertama, aku gak mau memutuskan rejeki calon bayi si A. Kedua, alas an si A tidak sebagus kinerjanya dari sebelumnya keran memang dalam kondisi hamil. Jadi tidak bisa disamakan dengan yang dalam kondisi tidak hamil.

Jika aku lanjutkan ke kontrak kedua, bisa dipastikan aka nada ketidaknyamanan dalam kerja, secara leader dan karyawan permanen tidak setuju untuk meneruskan kontrak si A. Maka aku takut akan mengganggu kinerja di lapangan. Ketika kinerja di lapangan terganggu akan sangat berimpact terhadap kinerja team semua. Dan ini tidak baik. Kedua, aku takut kondisi kandungan si A, secara dari track record dia sering gak masuk saat hamil, itu artinya kondisi hamilnya butuh perhatian khusus. Jika dia terlalu memaksakan kerja takut ada apa-apa dengan kehamilannya.

Seminggu tidak menemukan jawaban, aku ada alasan mengulur waktu, aku panggil si A. Aku minta si A untuk bermusyawarah dengan keluarga si A, apakah akan tetap jadi wanita karir atau pindah ke IRT nantinya.

Ehhh, besoknya si A langsung menghadap, dengan jawaban. Sudah diskusi dengan suami, “ingin tetap lanjut kerja”. Aku tambah puyeng. Aku minta minggu depan menghadap aku lagi untuk keputusan apakah akan ku perpanjang atau tidak, alasanku. Aku akan konsultasi dengan HRD dulu.

Di seminggu itu, aku tercerahkan. Ada kesalahan yang aku ambil, yaitu. Aku meminta pendata ke leader yang belum merasakan hamil, dan permanen yang aku mintai pendapat juga belum pernah merasakan seperti apa beratnya hamil, ada lagi yang cowok yang aku mintai penadapat yang bisa dipastikan gak akan hamil.

Seminggu kemudian aku sudah mengantongi keputusan yang menurutku paling tepat. Saat si A menghadap, aku bilang ke si A. “Aku perpanjang kontrakmu hanya 3 bulan sampai kamu melahirkan, satu hal yang perlu kamu catat, ini keputusan yang berat buat saya, jika dalam waktu 3 bulan kerja nanti mungkin ada rasa kurang nyaman saat kerja, tolong kamu sabar, karena jujur, keputusan ini agak berbeda dengan rekomendasi leader dan temen-temenmu terhadap kinerjamu”…..

Aku paparkan absensi dia, kinerja, lembur aku compare dengan cew-cew yang lain yang pernah hamil juga. Intinya supaya dia paham akan posisnya, kalau dia niat kerja dan ingin tetapkerja ya kudu bisa menyesuaikan dan memperbaiki kinerja.

Tak lupa aku bilang, “Apapun nanti, satu hal yang harus kamu ingat, kesehatan bayi dalam kandungan dan kesehatanmu adalah nomor satu, jangan perdulikan yang lain” ucapku mantab dan tegas. Aku liat dia juga siap sepertinya.

Akhirnya, aku merasa plong mengambil keputusan ini. Setelah si A menghadap, aku panggil leader, aku katakana dengan jelas, tegas, “Aku sudah putuskan memperpanjang kontrak si A selama 3 bulan”. Dan memang dari nadaku aku tidak berharap ada sanggahan.

Seminnggu kemudian, atau tepatnya beberapa hari sebelum masa kontrak ke satu si A habis, si A menghadap saya. Dia mengatakan “Pak, tadi malam saya diskusi dengan suami, maaf, sepertinya saya berubah pikiran, saya sudahi saja kontrak saya disini, saya tidak melanjutkan kontrak kedua yang 3 bulan bapak berikan. Saya ingin focus ke melahirkan saja nantinya” Si A mengatakannya dengan tegar, tegas, dan tanpa beban. Aku tau itu dari sorot matanya.

Aku tidak bisa menolak keputusan si A dan Suaminya.

Alhamdulillah, semua berakhir dengan sempurna.

18 comments on “Sempurna

  1. metamocca
    January 10, 2013

    jadi sama-sama gak ada yang terbebani. dengan dibandingkan dengan ibu-ibu lain yang pernah hamil, saya rasa dia juga merasa terbebani.

    :p

  2. izzawa
    January 10, 2013

    berarti memang itu yang terbaik buat dia mas/…
    syukurlah kalau memang dia mengerti dengan kondisi nya dari pada memaksakan diri untuk tetap bisa bekerja tapi malah tidak total🙂

    • 9ethuk
      January 12, 2013

      Yupz, semoga semuanya yang terbaik….

  3. Wong Cilik
    January 10, 2013

    ini pengalaman yg berharga … TFS mas…

  4. lambangsarib
    January 10, 2013

    Wah, luar biasa ketabahannya.

  5. Rawins
    January 10, 2013

    betul betul keputusan sempurna
    anak adalah investasi masa depan yang tiada taranya
    akan menyesal bila ada masalah dengan anak cuma gara gara tak mau merampingkan urusan ekonomi keluarga

    • 9ethuk
      January 12, 2013

      Kadang butuh kedewasaan untuk mengerti masa depan mas, dan gak semua orang bisa. Makanya ada orang tua yang harusnya mengarahkan🙂

  6. genthuk
    January 11, 2013

    mantab iki cara mengambil data dan kesimpulannya. Jan, gak salah kalo jadi Presiden BEM Farmasi Unair

  7. Ulfah Uswatun Hasanah
    January 11, 2013

    Hemmm… saya sepakat dengan si ibu hamil itu dengan keputusan yang diambil..😀. Mengingatkan saya akan kisah bu ainun. “Aku seorang dokter anak yang mengurusi anak di Rumah sakit,” kata bu Ainun “Tetapi, kenapa anakku sendiri tidak terurus? maka aku memutuskan untuk membersamai anakku.”:mrgreen:

    • 9ethuk
      January 12, 2013

      Aku belum nonton filmnya……………

  8. yisha
    January 11, 2013

    lega ya ka……met bersyukur?

    • 9ethuk
      January 12, 2013

      Iya yisha… lega banget

  9. danirachmat
    January 11, 2013

    Bener-bener bagus Mas solusi dan keputusan yang diambil. Semuanya selesai tanpa ada masalah yang berarti..

  10. Ely Meyer
    January 11, 2013

    rasany anggak smeua bis amengambil keputusan yang kamu lakukan itu mas

  11. katacamar
    January 12, 2013

    judulnya ngingetin pesulap damian sambil muter tangan …sempurna, pas banget ama isinya🙂

    • 9ethuk
      January 12, 2013

      Hehehehe.
      Sebentar Pak. Demian itu yang mana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 10, 2013 by in [Catatan Harian] and tagged , , , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: