9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Pak Omen Pulang Kampung,

Pak Omen yang make Peci Putih (Foto pas dulu aku SMA)

Pak Omen yang make Peci Putih (Foto pas dulu aku SMA)

Bismillah.

Rusmin, itu nama aslinya. Tapi aku biasa memanggil dengan sebutan Pak Omen, usianya terpaut hanya 3 tahun diatasku. Temen seperjuangan di Remaja Masjid di kampung halaman. Saking plek-nya, sudah seperti keluarga sendiri, kayak saudara aja pokonya.

Boleh dibilang, dulu yang ‘meracuni’ku aktif dikegiatan masjid hingga jadi seneng ke mesjid salah satunya adalah pak Omen. Alhamdulillah, sampai sekarang masih seneng ke mesjid.

Pak Omen, aku lebih mengangganya sebagai kakak, tidak hanya karena secara usia beliau lebih tua. Tapi secara tempaan hidup, Pak Omen lebih banyak mengenyam asam garam gula dan rempah rempah kehidupan. Dan aku banyak belajar darinya.

Awal lulus kuliah dan diterima kerja di cikarang aku ditampung di kost-nya Pak Omen. Maklum, dari kampung tidak tau jakarta sama sekali, pertama kali ke jakarta (disini ceritanya)

Pun saat awal-awal kerja, dimana rasa bosan mengantui tiada habisnya, rasa jenuh menjulang tinggi menembus cakrawala, saat sendiri tiada teman berbagi. Pak Omen adalah salah satu sahabat tempatku bersandar (disini ceritanya)

Bahkan, Pak Omen adalah salah satu sohibku yang paling rajin menasehati dengan sms sms tausiahnya yang menyejukkan. Dan entah kebetulan atau bagaimana, terkadang bahkan sering sms smsnya memberi nasehat atau ketengan dalam masalah yang saat itu sedang aku hadapi (disini ceritanya)

Pak Omen orang yang sabar, tegar, kuat.

Tiga tahunan beliau menunggu kehadiran anak. Senantiasa berprasangka baik pada Alloh belia tekankan pada istrinya. Yang terbaik pasti diberikan oleh Alloh pada hamba kesayangan-NYA.

Dulu sempat berujar, kalau sudah punya anak, di ingin balik ke kampung. Tujuannya jelas, merawat masjid, mengajar TPA/TPQ, meramaikan masjid lagi seperti dulu, mengajak ibu-ibu ke pengajian, dll.

Tekad itu terus ia pegang, kuat ia pegang. Padahal, Pak Omen sudah menjadi karyawan permanen di salah satu pabrik di Jakarta Utara. istrinya yang selama ini ikut di jakartapun sudah bekerja di salah satu kantor.

Kemarin, Pak Omen telpon aku. Uang resign dari pabrik sudah keluar, ia pamit untuk pulang kampung. Ngopeni mesjid tegasnya.

Belum genap sebulan kelahiran anaknya, dan dia memenuhi tekadnya. Balik ke kampung saat mempunyai anak. Sekarang, keluarganya sudah lengkap, dia sebagai Bapak, Istrinya sebagai Ibu, dan telah lahir putri cantik buah hati dari pasangan pejuang ini.

Barakallah Pak Omen, selamat berjuang di kampung halaman.

Happy blogging.

Note : Maaf, maaf, maaf belum bisa berkunjung dan membalas comment…

10 comments on “Pak Omen Pulang Kampung,

  1. genthuk
    February 21, 2013

    yo wis tak sepuro

  2. Mita Alakadarnya
    February 22, 2013

    Alhamdulillah Pak Omen bisa menepati janjinya…

  3. yisha
    February 22, 2013

    wow……….

  4. Ely Meyer
    February 23, 2013

    Salut sama pak Omen🙂

  5. danirachmat
    February 24, 2013

    Alhamdulillaah, semoga lancar semuanya Mas buat Pak Omen..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 21, 2013 by in [Catatan Harian], [Yang Kukenal] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: