9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Yang Pasti-pasti Aja

Gambar dari Solopos
Gambar dari Solopos

Bismillah.

Sampai tanggal ini, hampir setiap pagi dan malam masih melihat berita tentang kematian Uje (Ustadz Jefry Buchori).

Masih ditanyangan Tipi, ribuan orang masih banyak yang datang ke rumah Uje, Ke pusara Uje sampai di lokasi kecelakaan Uje. Melakukan Takziyah, Mendo’akan Uje, Tahlilan, Ikut Berbela sungkawa, atau sekedar berfoto.

Bahkan jika tidak salah lihat, pas akan dan setelah di sholatkan di Istiqlal, dari Tipi juga banyak orang yang mengankat tangannya. Baik mengangkat tangan berdo’a ataupun sekedar memfoto untuk mengabadikan. Tapi di layar Tipi aku lihat lebih banyak yang pegang Hape.

kalau kata AaGym dulu, saat ada orang ditanya mau kemana? ” Mau Liat Aagym”

Sebentar kemudian si Orang ini balik lagi. Karena penasaran ditanyalah lagi,

“Kok cepet banged pengajiannya? udah selesai?” Si orang tadi menjawab “Khan tadi pengen liat AaGym, tadi udah liat kok seperti apa AaGym, karena udah tau seperti itu penampakan Aagym, ya sudah saya balik” Hehehehe.

Kesimpulan pertama : Ustadz bukan tontonan, tapi tuntunan. ustadz bukan di Hape tapi di hati dan setiap tindakan kita.

Masih di Tipi, dari sekian banyak orang yang di wawancara terkait meninggalnya Uje, sebagian besar pasti menyisipkan do’a supaya segala amal pahala Uje diterima Alloh swt, ditempatkan di sisi-Nya, dibalas dengan segala kebaikan.

Ehmm, menurut gue sich kagak ada yang salah. Setuju dan emang seharusnya begitu. Dan gue yakin Uje pasti mendapat tempat yang baik.

But, ada tanda tanya besar setelahnya. Bagaimana dengan kita? Dengan kita yang bukan Ustadz, dengan kita yang bacaanya Qur’annya semrawut, dengan kita yang sholat aja masih ulur-uluran, dengan kita yang masih ‘pelit’ sedekah, dengan kita yang belum tentu ribuan orang yang menghantarkan kita saat kita meninggal, dengan kita yang manusia biasa-biasa aja.

What should we have to do? Sesaat setelah mengucapkan do’a untuk Uje seharusnya kita segera melihat diri kita dan banyak-banyak berdo’a untuk kita.

Kesimpulan kedua : Setiap kematian saudara kita adalah Dzikrul Maut buat kita.

Dalam sebuah ceramah di Tipi (masih Tipi lagi sumbernya), ada satu ceramah yang masih melekat sampai sekarang di kepalaku. Kenapa melekat? karena seakan kepalaku di tonjok karena nasehat di Tipi itu (ehmm kalau gak salah acara di TVRI yang ngisi Ari Ginajar (ESQ)). Intinya begini :

Sekarang ini, banyak orang yang takut membicarakan tentang sesuatu yang pasti, takut jika melihat sesuatu yang pasti, males jika ada membahas sesuatu yang pasti, menghindar jika ada yang sedang membicarakan sesuatu yang pasti, bahkan hingga menolak kalau ada yang membicarakan yang pasti ini.

Apakah yang pasti itu? adalah kematian.

Kita lihat saja, jika lagi ngobrol bareng, trus tiba-tiba ada yang memulai pembicaraan tentang hidup setelah mati. Apa komentar yang muncul?

“Waduh… ustadz mulai ceramah neh”

“Jangan ngomongin tentang mati donk, merusak suasana”

“Yach.. kalau ngomongin tema satu itu mah selesai dah ngobrol kita”

“Stop-stop, ganti tema donk selain tema itu please”

dll dll

Hehmmmm, ada dengan mati? bukankah tema itu adalah sebuah kepastian dan pasti setiap orang akan melewati tahap itu?

Lebih pasti mana, membicarakan mati atau membicarakan seseorang yang belum tentu kebenarannya.

Lebih pasti mana, membicarakan mati atau menggunjingkan suatu kejadian yang tidak bisa di crosscek kebenarannya?

Aku membayangkan, jika ada orang yang tau kalau besok dia akan mati. Apa yang akan dia lakukan?

Aku yakin, setiap detik menjelang sisa detik kematiannya akan dia pergunakan seoptimal, semaksimal, sebermanfaat, sebaik, senikmat, sebahagia yang ia bisa.

Jika hari-hari sebelum ia tau saat berangkat kerja hanya mengucap salam ke istri, maka aku yakin, setelah ia tau besok meninggal, sambil mengucap salam ia akan kecup kening istrinya dengan cinta.

Jika hari-hari sebelumnya saat datang di kantor duduk dan hanya sekedar menghabiskan waktu menunggu jam pulang, maka saya yakin jika ia tau besok akan meninggal, saat pertama kali datang ia akan sapa semua orang yang ia lewati, menebar senyum, ramah, sangat mudah mengucapkan terimakasih, ringan mengucapkan maaf, dan berusaha dengan sisa beberapa jam di tempat kerjanya, ia ingin menggalkan cerita yang baik sepeninggalannya.

Jika pada hari-hari biasa, saat ia berangkat bekerja berlalu begitu saja saat melewati pengemis, peminta-minta, maka saya yakin jika ia tau besok akan meninggal, ia akan rela tidak membeli rokok dan menyisihkan uangnya untuk dibagi-bagi ke setiap pengemis yang ia lewati.

Jika pada hari-hari sebelumnya sering menyisakan makanan di piring, pilih-pilih makanan, jika ia tau besok akan meninggal, saya yakin ia akan menghabiskan makanan yang ia makan, bahkan tidak akan ada satu biji nasipun tertinggal, bersih.

Jika pada hari-hari sebelumnya sering mengacuhkan permintaan orang tua yang ringan, yang mudah, yang simple. Maka saya yakin, bahkan hanya dengan gerak tubuh orang tuanya yang menandakan sebuah permintaan pasti akan ia penuhi dengan segera tanpa menunda nunda.

…………………. sejatinya tulisan ini adalah untuk diri saya pribadi untuk selalu mengingat, bahwa saya pasti akan mati. Maka hati-hati terhadap setiap tindak tanduk dan prilaku.

Jadi teringat salah satu nasehat teman dari Hasan saat ia lulus dari Al Azhar dan ditempatkan untuk mengajar di sebuah pelosok desa, kata teman Hasan ini :

“Seorang mukmin yang baik itu, datang ke suatu daerah dengan baik-baik, melakukan tugasnya dengan cara baik, mengajarkan sesuatu yang baik, dan meninggalkan tempat tugas dengan cerita yang baik-baik”

9 comments on “Yang Pasti-pasti Aja

  1. lambangsarib
    May 2, 2013

    Kalau saya saat datang di pengajian langsung pingin insaf. Begitu kaki dilangkahkan menuruni anak tangga masjid, yang terjadi justru sebaliknya. Gimana ya ?

    • Ika Koentjoro
      May 3, 2013

      Untuk menjawab pertanyaan pak Sarib baca siroh sahabat Handzalah bin Rabi’. Sedikit cuplikannya. Suatu hari Handzalah bertemu dengan Abu Bakar. Abu Bakar bertanya,” bagaimana kabarmu wahai Handzalah.” Lalu Handzalah pun berkata,”handzalah telah munafik.” Abu bakar lantas berkata,” SubhanaAllah, apa yang kamu katakan wahai handzalah?” Handzalah kemudian menjawan,”Setiap aku berada didekat Rasulullah kemudian beliau menceritakan surga dan neraka , maka seakan2 mereka ada didepan mata…… Untuk kelanjutannya silahkan googling di internet ya pak🙂

  2. Ika Koentjoro
    May 3, 2013

    Dzikrul maut. Mengingat sesuatu yang pasti

  3. Larasati
    May 3, 2013

    betul mengingat sesuatu yg pasti….thanks sharing nya mas aan.

  4. Rawins
    May 3, 2013

    aku malah ga pernah ngaji, om…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 2, 2013 by in [Catatan Harian], [Curhat] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: