9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Mengintip Kearifan Lokal (Part 1)

Bismillah.

Beberapa hari sebelum lebaran di pabrik heboh, saat di ruang ganti pakaian pada ngebahas kecelakaan di jalan raya bogor daerah cilodong. Jalan yang saben hari hamper dilewati para buruh pabrik pun termasuk aku.

Mas Bani dan Dedi bercerita kalau korban kecelakaan tergelempar di tengah jalan sekarat, bersimbah darah.

Namun, ada pernyataan yang aku agak geli dan aneh, yaitu kagak ada yang nulungin takut dijadikan saksi ditanya ini itu oleh polisi. Kasian banged.

Lain disini lain dikampung.

Di kampong, jika ada kecelakaan di jalan, dalam hitungan jam meskipun tidak ada internet, FB, Twitter, dan gak semua orang pegang HP pas berita langsung menyebar seantero desa J

Dulu adekku kecelakaan, dalam hitungan menit bapakku tiba dilokasi dan sudah banyak yang nulungin. Seperti biasa, orang sekampung langsung tau kejadian adekku mengalami kecelakaan.

Cerita menggelikan saat pulang kampong kemarin, pas mau silaturahmi ke desa sebelah istriku mengingatkan. “ Mas jangan lupa bawa dompet”,.. aku jawab, “kalau ada apa-apa orang sekampung udah tau aku siapa, anaknya siapa rumah dimana” J

Lain cerita saat lebaran 2 tahun yang lalu, pak lurah desa kami sedang menampung orang yang lagi nyari familinya dimana. Kok bisa lupa? Ceritanya, sekeluarga ini dulunya merantau, sudah sangat lama tidak pulkam. Akhirnya memutuskan pulkam tapi kondisi sudah berubah. Dan hanya berbekal nama mereka mencarinya.

Padahal orang yang dicari bukan orang di desaku, tapi karena ingin menolong diberi tempat tinggal oleh pak lurah sambil dicariin orang yang dicarinya.

Sampai ada anekdot seperti ini, entah dari kisah nyata atau hanya fiksi tapi cukup menghibur.

Apa bedanya memarkir mobil beberapa hari di pinggir jalan kota dengan di pinggir jalan kampong?

Kalau dipinggir jalan kota, hari ini kita parker besok mobil belum tentu utuh dan belum tentu masih ada.

Kalau di pinggir jalan kampong, hari ini kita parkir besok ada tambahan accessories, ada yang nutupin pake daun pisang biar gak kepanasan, ada yang kasih tanda di jalan (biasanya ranting pohon yang diberdirikan) supaya orang hati-hati gak nabrak mobil, dan kalau ada yang nanya mobil siapa pasti sudah ada clue petunjuk, mobilnya anaknya si A, atau mobil temen anaknya si A, atau mobil, temen menantu anaknya si A. J

3 comments on “Mengintip Kearifan Lokal (Part 1)

  1. Ika Koentjoro
    August 20, 2013

    Dikampung lebih seru dan lucu ya ketimbang di kota

    • 9ethuk
      August 20, 2013

      makanya untuk menghilangkan kejenuhan orang kota balik kampung. mengisi energi saat mereka masih kecil dulu. Hidup penuh semangat tanpa beban🙂

  2. ocitamala
    August 21, 2013

    Ngomong-ngomong masalah kecelakaan. Saya pernah ngantar orang habis kecelakaan. Gak terima kasih, malah mau digambar sama keluarganya. Ya begitulah di Indonesia, mangkanya tidak salah kalau orang tidak mau menolong orang kecelakaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 19, 2013 by in [Serial Pulkam] and tagged , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: