9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Mengintip Kearifan Lokal (Part 2)

Waktu pulang kampong kemarin, ada celetukan yang kepikiran saat bertandang ke salah satu temen yang habis melahirkan di Surabaya.

“Enak di Surabaya Mbak, apa-apa murah, di Jakarta mah pusing, udah muacet apa apa mahal dan dikit dikit keluar uang”

Eng ing eng,.. ehmm ada benernya juga sich.

Pas pulang ke magetan, bapak cerita kalau salah satu ayam jago yang ada di belakang rumah adalah hasil pemberian temennya saat ayah ke rumah temennya.

Dilain waktu lagi saat ke rumah temennya pulang-pulang dibawaan jahe fresh yang baru dicabut dari batangnya satu kresek!

Dulu pas aku masih di magetan (SD-SMA) sering banged orang-orang di sawah yang deket dengan rumah ngasih hasil sebagian panen ke kita. Senengnya,… pas ada yang panen sawi kita kecipratan dikasih sawi, pas ada yang panen jagung kita dapet jagung, pas ada yang panen timun kita depat timun.

Maklum, rumah kami termasuk mewah alias mepet sawah (belakang, samping kanan kiri sawah) hahaha..

Di desa, sudah menjadi budaya jika silaturahmi tidak dengan tangan kosong. Berhubung pengen silaturahmi tapi kagak ada duit, maka apa yang ada di rumah dibawa. Ada pisang di belakang rumah ya pisang di pohon yang di bawa, adanya hanya ayam ya bawa ayam, atau apapun.

Pernah ibuk minta tolong family untuk menjualkan ayam yang jumlahnya puluhan, imbalannya yang bantu ngejual di kasih 2 ekor ayam J . Simple life.

Jangan heran jika jumlah uang berwujud yang harus ada di dompet untuk kebutuhan hidup sebulan di desa dengan di kota akan sangat sangat timpang.

Di rumahku dulu, bapak biasa menanam sawi, Lombok, terong, bayam, laos, jahe, ketela sayur, dll. Untuk hewan, kita pernah pelihara kelinci sampai banyak, ayam gak terhitung, kambing udah bergenerasi. Dulu kalau ada temen kuliah datang disembelehin kambing. Minimal ayam, ayam kampong bok, mahal kalau di kota.

Saking senengnya menanam sawi, pas waktu panen saking buanyaknya hingga dibagiin ke tetangga dan family deket dan jauh. Itupun masih kebanyakan. Hehehehe. Metode menanamnyapun gak perlu lahan, cukup di tanam bersamaan dengan tanaman yang lagi ditanam di sawah. Kalau pas lagi jagung ya bareng jagung, kecuali saat padi gak bisalah.

Jangankan yang ditanam, yag gak ditanam pun tumbuh.

Masih ingat dengan jelas, dulu di pelataran rumah ada pohon semangka yang sampai berbuah dan kita petik buahnya. Hahaha,.. tanpa di pelihara!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 19, 2013 by in [Catatan Harian], [Serial Pulkam] and tagged , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: