9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Mengintip Kearifan Lokal (Part 3- Habis)

Salah satu pertimbangan ketika pelaksaan acara hajatan besar di desa jauh lebih murah costnya adalah biasa konsumsi dan personil pelaksanya bisa sangat jauh ditekan.

Di kampungku, kalau ada hajatan pernikahan misalnya, maka tetangga dan family akan saling bantu untuk memasak. Ada yang mengupas bawang, kentang, wortel dll. Empunya hajat hanya menyiapkan bahan-bahan dasarnya. Paling keluar uang hanya untuk juru masak inti.

Piring, sendok, tikar, sudah ada di masing-masing RT tinggal di pinjam dan mengisi kas RT sesuai kesepakatan.

Saat pelaksanaan ada dari karang taruna, pemuda pemudi yang membantu melayani tamu. Di tempatku dinamakan sinoman. Dulu pas aku SMP dan SMA suka jadi sinoman. Jadi pas ada orang hajatan kita bantu mengeluarkan makanan minuman untuk tamu, menarik piring kotor, dll. Dan itu terorganisir dengan rapi, biasanya pake baju putih bawahan gelap.

Bagaimana dengan sewa tempat? Nah inilah keunggulan rumah orang desa, biasanya rumahnya besar dan halaman luas, acara resepsi biasa diadakan di rumah masing-masing. Bagaimana dengan yang rumahnya tidak cukup besar? Tetangga rumah yang halaman/rumahnya besar siap sedia sebagai lokasi resepsi. Itu sudah biasa.

Di kampungku, saat ada hajatan namanya nyumbang itu bukan orang datang tangan kosong hanya berbekal amplop. Tapi datang dengan membawa baskom berisi beras, mie, telor gula dll ditambah amplop secukupnya. Bisa di bayangkan, jika satu orang membawa beras 2 kilo aja, kalau yang datang 500 orang berapa kilo beras terkumpul?

Dulu pas nikahan adekku yang kata bapak tidak diramaikan, yang diundang hanya keluarga dekat saja, yang diundang 300 orang yang datang hamper seribuan orang.

Itu beras berkarung-karung dikamar belakang, gula, kelapa mentah, teh, mie, dll menggunung.

Kok bisa yang datang lebih banyak dibanding dengan yang diundang? Maklum inimah factor bapak yang dikenal banyak orang. Hehehe,..

Mari kita bandingkan dengan di kota,

Makanan? Catering. Lokasi? Sewa Gedung.

Jadi kepikiran, saat Ai nanti udah besar dan menemukan imam rumah tangganya. Habis berapa ya menikahkannya? 100 juta cukup?

Ada yang mau menambahkan tentang kearifan lokal?

Kadang aku berfikir, kalau ada yang bilang “Kampungan Loe!” itu pujian atau hinaan ya?

2 comments on “Mengintip Kearifan Lokal (Part 3- Habis)

  1. mhilal
    August 19, 2013

    Tak ada yang bisa ditambahkan, mas. Mas gethuk sudah menggambarkan dengan apik sekali. Kampung serasa sangat menyenangkan setelah membaca postingan ini dan 2 postingan sebelumnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 19, 2013 by in [Catatan Harian], [Serial Pulkam] and tagged , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: