9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Munafik?

DSC_0403Bismillah.

Sehari-hari sering aku mendengar, baik dari celotehan lingkungan sekitar atau dari media televise. Dalam banyak percakapan dan ungkapan dimana ada kata-kata munafik didalam kalimat tersebut.

Kenapa aku tergelitik, ehmm aneh saja. Seakan merasa ada pergeseran makna dari kata munafik itu sendiri.

Seperti contoh beberapa kalimat yang terlontar berikut :

“Jangan kayak si A, meskipun pakai jilbab eehhh ternyata masih doyan nonton film gituan. Munafik!”

“ Halaaahh si A mah Cuma bajunya aja gamis, pake peci rajin ke mesjid. Padahal pernah ngambil uang kas masjid. Munafik!”

“Dia mah diluarnya saja ramah, suka menolong, padahal kalau di rumah jahatnya minta ampun. Munafik”

“Pura-pura doank rajin ngajinya dia mah, aslinya mah masih suka nyakitin kalau ngomong. Munafik”

Dll

Setahuku, waktu dulu SMP diajari cirri-ciri orang munafik itu :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ؛ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ

Tanda orang munafik ada tiga: Jika bicara berdusta, jika diberi amanah berkhianat, dan jika berjanji menyelisihinya.”

 Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَإِنْ كَانَتْ خَصْلةٌ مِنْهُنَّ فِيهِ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ

Empat perkara, barangsiapa yang ada pada dirinya keempat perkara tersebut maka ia munafik tulen. Jika ada padanya satu di antara perangai tersebut berarti ada pada dirinya satu perangai kemunafikan sampai meninggalkannya: Yaitu seseorang jika bicara berdusta, jika membuat janji tidak menepatinya, jika berselisih melampui batas, dan jika melakukan perjanjian mengkhianatinya.

Pertanyaannya, kenapa kok cirri-cirinya?

Karena kemunafikan itu penyakit hati, dan tidak ada orang yang tau tentang isi hati seseorang. Bahkan di jaman Rasulpun, yang tau daftar orang munafik hanya ada 2 orang. Rasul sendiri dan Hudzaifah (sekretaris pribadi Rasul). Selain itu tidak ada yang tau.

Jadi jika ada pernyataan seperti contoh diatas :

“Jangan kayak si A, meskipun pakai jilbab eehhh ternyata masih doyan nonton film gituan. Munafik!”

Pertanyaan selanjutnya :

Apakah si A suka berbohong? Jangan-jangan pas ditanya apa bener, ternyata ia mengiyakan dan bilang kalau saat itu dia khilaf. Nah loh, dia ngaku. Trus masih dikatakan munafik?

Apa hubungannya jilbab dengan kesalahan individu yang dilakukan oleh orang yang memakai jilbab? Apa orang berjilbab tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun? Tidak boleh iman pas lagi ngedrop? Harus bersih dari dosa? (hebat bener donk kayak rasul?)

Pun demikian dengan orang yang suka ke mesjid, rajin sholat, pinter membaca qur’an dll. Apakah dituntut harus sempurna selamanya? Maka jika ada cacat sedikit langsung cetar membahenol.

Jadi teringat pesen temenku di buku perpisahan.

“An, orang biasa kemudian terjatuh. Ya sudahlah. Namun jika ia membuat hal hebat  maka ia dipuji.”

“Orang hebat saat dia melakukan hal-hal hebat maka ia di puji dan dielu-elukan. Tapi saat dia jatuh, dia digunjingkan. Hati-hati ya An”

Jadi inget juga kejadian saat SMA, saat itu anak-anak rohis banyak di cap dengan stempel sok sucilah, sok alimlah, sok solehlah (padahal nama gue Aan, beneran Aan bukan Soleh).

Akhirnya dibahaslah dalam suatu pengajian, saat kita curhat seperti itu, ehhh dikasih solusi suruh balik bilang gini.

“Dari pada kamu, dilahirkan dalam keadaan suci ehh udah gedean pura-pura sok najis, sok maksiat, sok nakal, sok mursal, dan sok sok yang lain” Hahahaha… (tapi bener lo ternyata, saat nyawa ditiupkan di usia kandungan 4 bulanan. Kita disumpah untuk mengakui Alloh swt adalah Rabb kita (Al-A’raf 172).

So, intinya.

Mari kita hati-hati menjustifikasi seseorang, jangan sampai perasaan benci kita terhadap sesorang membuat kita berlaku tidak adil.

Setiap orang memilki kebebasan untuk berproses menjadi lebih baik, memakai jilbab, rajin mengaji, rajin ke mesjid adalah salah satu proses itu. Bukan berarti tanpa celah, tidak pernah jatuh, harus sempurna tanpa cela.

One comment on “Munafik?

  1. lazione budy
    August 29, 2013

    sama dengan tuduhan ‘kafir’
    ini lebih gawat lagi.
    sebenarnya yang namanya tuduhan memang masih dalam prasangka, di mana itu belum tentu benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 29, 2013 by in [Catatan Harian], [Curhat].

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: