9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

[Analogi] Bermotor dengan Liku-liku Kerja

Bismillah.

IMG-20150810-WA0003

Sudah lebih dari 5 tahun ternyata gue jadi biker, ciee.. kalau dihitung-hitung jarak tempuh perjalan lumayan juga ternyata. Jarak dari rumah ke pabrik sekitar 25 KM, pulang pergi jadi 50 KM. Sebulan 24 hari x 50 KM = 1,200 KM. Setahun angkanya cukup mengejutkan hampir 15,000 KM. Kalau 5 tahun? Wow.. tembus 75,000 KM mbok!

Jika dihitung secara waktu, kalau sehari pulang pergi 2 jam, maka sebulan 48 jam. Setahun taruhlah 500 jam. Bisa dihitung 5 tahun adalah 2,500 jam atau 3,5 bulan. Mbook.. naik motor selama 3,5 bulan? pulang kampung terlama saja 44 jam sudah dempor gak karuan😀

Kembali ke judul,

Selama itu mengendarai motor, kadang pas lagi di jalan sering berfikir bahwa perjalanan naik motor dengan dunia kerja mirip-mirip juga.

Suatu ketika, saat berangkat kerja gue nemu kemacetan yang sangat. Kemudian mulai menganalisa, bakal lama gak neh macetnya, kira – kira kenapa macetnya. Maka kita akan di benturkan ke dalam beberapa pilihan. Tetap di jalan yang sama hingga kemacetan terurai? atau belok kiri ambil jalan tikus untuk melewati titik kemacetan baru kembali ke jalur utama. Dan masing-masing pilihan ada resikonya.

Pernah juga saat berkendara di gelap malam, tiba-tiba di depan ada lubang menganga sedangkan kita hanya punya waktu sepersekian detik untuk memutuskan apakah menghantam lubang atau berkelit menghindari korban, atau tekan dan injak rem sambil berharap tidak masuk lubang. Masing-masing pilihan ada resikonya. Kadang yang sering gue lakukan dengan motor yang gue udah paham adalah tetap menghantam lubang sambil menguatkan pegangan, sebab resiko yang lain terlalu berbahaya bro buat pengendara sekitar kita.

Kadang yang agak susah di INAku tercinta adalah pas di lampu merah, sering bahkan terlalu sering rombongan yang berada di belakang garis marka lebih sedikit dengan yang nylonong depan marka, bahkan di depan lampumerah. Giliran lampu udah hijaau, lead time segera bisa jalannya jadi tambah lama soalnya yang berhenti di depan lampu kagak ngeliat lampu, jiaahhh pengen gue lempar sendal swallow tu (sayangnya lagi pake sepatu, hahaha)

IMG-20150715-WA0022

Di dunia kerja pun mirip-mirip sebenarnya, hanya ruang lingkupnya saja yang berbeda, tapi subtansinya sama. Sering bahkan selalu kita di hadapkan pada pilihan-pilihan yang serba sulit, dan di setiap pilihan itu ada resiko yang harus siap kita hadapi. Apapun itu.

Maka, saat semua rencana, usaha, berfikir sudah kita lakukan sebaik mungkin, maka hanya rencana Allah sajalah yang akan berjalan.Dan hanya kepada Allah sajalah kembali segala hasil, tugas kita adalah berproses dengan sebaik mungkin.

Ada yang punya pengalaman berkendara dan berkarier Bro Sis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 22, 2016 by in [Jalan Raya], [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: