9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

[Catatan Harian] Sepatu Elsa Hilang Sebelah

Bismillah.

Ai dengan hasil gambarnya. Katnya yang kiri Elsa sudah besar yang kanan Elsa masih kecil (rambutnya di kepang dua)

Ai 3.5 tahun dengan hasil gambarnya. Katanya yang kiri Elsa sudah besar yang kanan Elsa masih kecil (rambutnya di kepang dua)

Pagi tadi mendapat pengalaman yang luar biasa, mengingatkan betapa tidak berdayanya kita ketika satu nikmat itu diambil yang punya dan hanya kekuatan cintalah yang menggerakkan untuk berusaha mendapatkannya kembali, papaun hasilnya. Ditemukan atau belum ditemukan. Jadi ceritanya begini.

Seperti halnya hari-hari libur yang sebelumnya, sabtu hari ini sebagai buruh pabrik yang baik aku juga libur🙂 . Nah biasanya, kalau sabtu pagi gue menyengaja bermain bareng Ai, anak pertama gue yang usia menginjak 3.5 tahun (udah gede kamu nduk..). Pagi ini gue ma Ai sepakat gowes bareng, maksudnya naik sepeda dimana Ai naikkan ke keranjang rotan taruh di depan tempat duduk. Kita gowes bareng😀 , dalam artian gue mancal Ai duduk manis, hahaha…

Kemana gowesnya? ke Stadion deket rumah trus lanjut muter jalur keluar Stadion beberapa Kilometer baru pulang. Nah, pas mau berangkat Ai bilang, “Abi.. Ai bawa boneka Elsa ya..” pintanya merengek. Dan seperti yang Anda duga, aku meng-iya-kan.

Jalanlah kita ke Stadion,.. mueter-muter Stadion, nyari lokasi kotak parkir yang agak sepi. Seperti biasa, gue sempetin joging satu kotak parkiran (lumayan luas iki rek) sebanyak 10 kali. Biasanya aku ngumpulin batu kecil 10 biji, tiap satu putaran aku naruh satu dan seterusnya hingga batu di tangan habis😀 . Sedangkan Ai asyik bermain dengan Elsanya, sesekali ikut lari muter-muter juga🙂

Sudah puas maen di Stadion gue mengajak Ai untuk gowes agak jauhan, syukurlah Ai mau. Kami sekeluarga membiasakan menanyakan hal-hal sepele seperti ini, ingin membiasakan pada anak-anak kami bahwa setiap kita diberi pilihan-pilihan, dan setiap pilihan ada kewajiban yang di tunaikan. Kalau saja Ai menolak, maka gue akan balik kanan pulang. Gue belajar untuk menghormati pilihannya dan tidak terlalu memaksa.

Planningnya dari Stadion ke arah pemda, trus ke arah kodim, lewat jalur belakang kodim balik lagi ke Stadion. Estimasi sekitar 3-4 KM mungkin. Lumayan buat ngeluarin keringet.

Berangkatlah kita, wes.. wes.. wes.. (namanya juga gowes😀 )

gambar  Elsa masih kecil

gambar Elsa masih kecil

Lah dalah pas mancal lebih dari 2 KM atau udah masuk jalan di belakang kodim, Ai merengek bilang, “Abiiii… sepatu elsa ilang atu… ndak ada”. Jiahhh,.. dalam hati cuman sepatu gak papa. Tapi kemudian Ai bilang, “Kasian Abi,.. sepatunya baru.. Ayo di cari..”

*Sedikit flash back, ini boneka Elsa baru gue beliin pas gowes di pasar kaget minggu kemarin, itupun karena pas nanya di Mall harganya 75rb, pas di pasar kaget 30rb, kalau di online store bilangnya “you save 40rb/ 55% ”😀

Kalau secara logika, maka tingkat probabilitas ditemukan sangat-sangat kecil, pertama kita tak tahu jatuhnya dimana mulai dari rumah sampai saat Ai bilang sepatu Elsa hilang, kedua kalau pun toh jatuh di sepanjang jalan apakah masih ditempat yang sama saat jatuh atau tidak, mungkin sudah tertabrak motor, mobil atau terlempar ke rumput atau entah kemana. Ketiga, ini sepatu ukurannya 1 CM atau kurang bahkan. Jadi, boleh dibilang kecil kemungkinan untuk ditemukan.

Tapi karena hati yang berbicara, maka kami puter balik menyusuri setiap inchi jalan yang kami sudah lewati, mencari sepatu Elsanya Ai.

Karena khawatir sepatu yang satunya ikut jatuh, gue bilang ke Ai, “Ai.. sepatu yang satunya Abi bawa aja ya biar gak jatuh” pintaku, dan Ai mombolehkan, dalam hati ilang satu ae wes mumet, ilang loro-lorone tambah mumet pindo. Karena ngeliat aku bawanya cuma aku genggam, Ai pun seperti tak rela, ia minta sepatu yang tinggal sebelah yang sedang aku genggam untuk ia bawa. Aq mengiyakan dan berpesan untuk berhati-hati membawanya.

Lah dalah,.. pas lagi dapet sekitar setengah perjalanan menyusuri balik, eehhh.. Ai teriak kalau sepatu yang tinggal sebelah yang Ia pagang jatuh dan gak ada di tangannya… Aaahhhhhh tidaakkk.. Puter balik lagilah kami sambil terus aku mengingatkan untuk berhati-hati. You know lah perasaan gue gimana? hahaha… dag dig dug ser,..

Akhirnya sepatu yang baru jatuh ketemu, subhanallah rasanya luar biasa senengnya, setidaknya beban berkurang satu. Tinggal satu lagi yang belum ketemu, yosshh semngat.

Dalam perjalanan sesekali aku bilang ke Ai kalau gak ketemu gak papa ya Ai, namun ia selalu menjawab, kasian Abi,.. sepatunya baru. Dalam hati gue bersyukur, anak ini punya rasa cinta terhadap yang Ia miliki.

Muter-muter, bolak balik di stadion kagak ketemu sepatunya Elsa. Secara logika sudah jelas, mencari sepatu ukuran 1CM disepanjang lebih dari 3KM perjalanan yang kita ndak tau dimana lokasi jatuhnya adalah hal yang sangat sulit. Jangan itu, kadang kita nyari barang yang lupa naruh di dalam rumah saja bisa berhari-hari atau berminggu-minggu. Ujung-ujungnya pas gak di cari tiba-tiba ketemu atau pas lagi sholat inget naruhnya dimana. hahahaha..

gambar Elsa sudah besar, kepang dua :)

gambar Elsa sudah besar, kepang dua🙂

Alhasil, kita tidak menemukan sepatu Elsa yang satunya, pulang ke rumah hanya membawa satu buah sepatu. “Utiii.. cucu (susu) ……..!” teriak Ai pas nyampek rumah, saya tau kalau itu adalah kode pelampiasan kalau ia marah, sedih, jengkel atau apapun yang membuat ia tidak nyaman. Tak apa-apa nak, kadang perasaan tidak nyaman perlu kita belajar merasakan, agar kelak kita terbiasa dan tidak mudah putus asa.

Bagiku, aku belajar banyak hal pagi ini. Bahwa rasa memiliki itu mengalahkan logika dan materi sekalipun, bisa dibayangkan, harga bonekanya 30rb, sepatu sebelah mungkin hanya 1rb atau 2 rb jika dilihat dari bahan yang digunakan. Tapi ini bukan soal uang, bukan soal materi, hanya ‘hanya’ soal sepatu. Tapi ini soal cinta, rasa memiliki dan komitmen.

Dalam ilmu managerial leadership, jika satu team sudah memiliki rasa memiliki terhadap yang mereka kerjakan, kadang pengorbanan dan kerja keras mengalahkan logika uang, sebab yang menggerakkan adalah cinta dan rasa kepuasan batin. Dan membuat anggota team merasa memiliki dan passion itu bukal perkara yang mudah, gue masih belajar ke arah sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 6, 2016 by in [Catatan Harian], [Menghentikan Waktu], [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: