9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

[Opini] Dilema Pasar Ikan Kramat Jati dan Pengendara Sepeda Motor

Bismillah.

Satu tahun setengah ini, setiap hari saat berangkat kerja, aku pasti melewati pasar ikan kramat jati. Ehmm istilah pasar ikan kramat jati adalah pasar ikan yang berjarak sekitar 200 meter dari PGC, Cililitan, Jakarta timur arah ke Bogor. Ciri-ciri pasar ikan ini adalah, pada jam 21.00 sampai pagi jam 07.00 pagi, akan sobat temui penjual ikan laut di pinggir jalan sepanjang hampir setengah kilometer. Penjual ikan ini akan memakan jalan sekitar 1,5 hingga 2 meter. Dan Otomatis lajur jalan akan berkurang.

Jika sobat pernah ke pasar ikan, maka hal pertama yang ada dibenak kita adalah bau ikan, kedua adalah suasana becek di lantainya. Dan biasanya, meskipun pasarnya sudah tutup bau ikan yang amis (karena ikan busuk, dll) akan tetap ada dalam jangka waktu tertentu. Permasalahan yang lain adalah terkait sampah. Bisa dibayangkan, kita saja jika beli ikan mentah pasti agak agak gimana gitu pas membersihkannya. Mengupas kulitnya, membuang jerohannya, belum termasuk bau dan lendir-lendirnya jika sudah agak lama kita tidak segera goreng atau masak.

Berbicara tentang lendir ikan atau bisa jadi minyak ikan mentah tsb, maka sobat bisa bayangkan jika pasar ikan tersebut ada di pinggir jalan di kramat jati tsb. Tepat di pinggir jalan sepanjang hampir setengah kilometer. Berapa banyak sampah kepala ikan, jerohan ikan, lendir ikan, minyak ikan yang tumpah dan membasahi sepanjang jalan tersebut?

Dan yang lebih dari sekedar hal diatas adalah, kondisi jalan menjadi licin. Bahkan bisa aku bilang hampir sama seperti ada tumpahan oli di sepanjang jalan tersebut. Maka bagi saya yang hampir setiap hari lewat jalan itu, sudah menjadi hal yang lumrah melihat sepeda motor jatuh tiba-tiba tanpa ada tabrakan. Ya jika jatuh sendirian, jika satu sepeda motor jatuh dan beberapa sepeda motor di belakang ikut jatuh? dan kejadian jatuh beruntun sudah menjadi hal yang biasa di sepanjang pasar ikan ini saat pagi berangkat kerja. Saking rawannya jalan ini, biasanya akan ada orang (entah dari mana, hantu donk? bukan maksudnya mewakili siapa, begoto) yang bawa loadspeaker memperingatkan pengendara motor untuk pelan-pelan dan hati hati karena jalan licin.

Saya tidak tau sejak kapan pasar ini ada, tapi satu hal yang saya tau. Hampir setiap hari, minimal akan ada satu pengendara sepeda motor yang akan jatuh di sepanjang jalan ini. Kadang saat naik motor, saya harus ekstra hati-hati. Kadang ada di depan saya tiba-tiba “bruukk” bapak-bapak terjatuh tanpa sebab, kadang disamping saya kadang terdengar di belakang sepeda motor saya.

Menurut penilaian pribadi, kerugian yang ditimbulkan bukan hanya tentang kecelakaan pengendara motor, tapi kemacetannya juga. Dan tidak heran lagi bagi sopir angkot jika lewat pasar kramat jati butuh waktu lebih dari setengah jam untuk berhasil melewati kemacetannya. Ini saya dengar sendiri pas sesama sopir ngobrol.

Jadi kalau lewat pasar kramat jati serba salah, berangkat agak pagi, terkena macet pasar ikan. Berangkat agak siang, terkena macet karena volume kendaraan sudah meningkat drastis. Dan belum bahaya licin jalanan.

Maaf, bukannya saya tidak setuju ada pasar ikan rakyat. Tapi jika yang dikorbankan adalah keselamatan pengendara sepeda motor yang hampir setiap hari terjadi kecelakaan yang disebababkan licinya jalan, maka perlu ada pembahasan secara sistematis terkait keberadaan pasar ikan yang tetap bisa dengan mudah dijangkau masyarakat dan tidak menimbulkan bahaya keselamatan pengendara dan pengguna jalan raya.

Hanya opini pribadi gw pribadi sebagai pengguna roda dua yang hampir setiap hari lewat pasar ikan kramat jati. Jika tementemen punya pengalaman terkait pasar ikan kramat jati, monggo di share.

6 comments on “[Opini] Dilema Pasar Ikan Kramat Jati dan Pengendara Sepeda Motor

  1. Ely Meyer
    November 2, 2012

    baru tahu aku ada pasar ikan dr jam 9 malam sampai jam 7 pagi, ngeri juga ya kalau tiap hari ada yg jatuh di sepanjang jalan itu

    • 9ethuk
      November 2, 2012

      Katanya temen kerja yang orang betwai asli, pasar itu sudah ada sejak dia kecil. Dah sangat lama, dan sejak dia kecil juga sudah macet. Weleh.

  2. danirachmat
    November 2, 2012

    Susah juga sih Mas ya. Mau ga mau emang harus dicarikan tempat untuk relokasi kayaknya. Semoga Jokowi berhasil melakukannya sama seperti yang dilakukan di Solo..

    • 9ethuk
      November 2, 2012

      Di satu sisi menyangkut pekerjaan ratusan bahkan ribuan orang penjual ikan. Di sisi lain pembeli suka yang simple, praktis gak mau ribet2 masuk pasar, cukup sambil naik kendaraan berhenti di depan penjual ikan beli ikan. Fiuhhh, serba salah membenahinya dari mana. Mau dari penjualnya atau masyarakat yang beli.

  3. inaf
    February 1, 2014

    Itu kan duyu.. skr dah g lagi cz para pdagang dah bayar iyuran untuk buang sampah” ikan…

    Klo msalah bau.. .. nama a juga pasar mas mna ada yg g bau…en becek.. ..

    Dan stau sya skr buka a jam 20:00-03:00

    Repot kalo rus masuk k dlem” pasar a

    Saling menghargai en saling mengerti satu sama lain… ..

    • 9ethuk
      February 18, 2014

      kalem brosis. gue juga postinya dulu kok. dan saat itu masih riweh. tau deh sekarang, udah pindah gue dari jakarta ke bogor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 2, 2012 by in [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: